Kamis, 24 November 2011

Maha Patih Gajah Mada 

Maha Patih Gajah Mada

Pipil lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi - Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang (Jawa Timur).  Sejak kecil, Pipil sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas. Kecerdasannya telah menarik hati seorang patih Majapahit yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya, bahkan di kemudian waktu juga menjodohkannya dengan putrinya sendiri yang bernama Ni Gusti Ayu Bebed untuk menjadi istri. Beranjak dewasa, Pipil yang kemudian lebih dikenal dengan nama Gajah Mada terus menanjak karirnya hingga menjadi Kepala (bekel) Bhayangkara (pasukan khusus pengawal raja).


Pada 1334, Ratu Putri Sri Tribhuanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani melantik Gajah Mada sebagai Mapatih Amangkubumi menggantikan Arya Tadah yang pensiun. Dan pada momentum inilah, Sang Mapatih mengucapkan janji baktinya sambil mengacungkan kerisnya bernama Surya Panuluh yang sebelumnya adalah milik Dyah Kertarajasa Jayawardhana, Raja Pendiri Kerajaan Majapahit: “Lamun huwus kalah Nusantara ingsun a-mukti pala-pa, lamun kalah Gurun, ring Seram, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun a-mukti pala-pa”. (“Setelah tunduk Nusantara, aku akan beristirahat. Setelah tunduk Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah aku beristirahat”). Ternyata dengan konsep persatuannya ini, berbuah pada meredanya pertumpahan darah antar kerajaan-kerajaan tersebut yang semula selalu saling mengintai dan berupaya saling menguasai (berperang terus silih berganti) sehingga menimbulkan banyak korban terutama terhadap rakyat masing-masing. Dengan pengayoman Majapahit dan semboyan bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, diantara kerajaan-kerajaan tersebut kemudian bisa menjadi lebih menekankan perhatiannya kepada upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemajuannya sendiri maupun bersama-sama. Selain itu juga menjadi lebih kuat menghadapi ancaman penjajah asing (Tiongkok/Tartar), menggantinya menjadi hubungan kerjasama dagang dan budaya yang saling menguntungkan masing-masing pihak.

Sang Mapatih mendapat ujian berat dalam peristiwa Perang Bubat. Sebagai sebuah kerajaan yang sudah sangat kuat pada saat itu maka Majapahit dapat saja menundukkan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran), namun Sang Mapatih lebih memilih menghindari kekerasan dan pertumpahan darah. Sejalan dengan itu, Sang Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara (Raden Tetep) yang telah beranjak dewasa serta menjadi raja Majapahit yang baru juga ingin menjadikan Putri Raja Sunda (Dyah Pitaloka) sebagai permaisurinya. Maka persatuan antara Majapahit dengan Kerajaan Sunda diharapkan dapat diwujudkan dengan tali perkawinan tersebut. Pada awalnya, rencana ini dapat diterima dengan baik oleh pihak Kerajaan Sunda, namun ketika sampai di daerah Bubat, rombongan Kerajaan Sunda tiba-tiba mengajukan persyaratan agar Sang Raja Majapahit harus turun sendiri menjemput pengantin dan rombongannya di daerah tersebut. Sang Mapatih dihadapkan pada dilema, baik menerima maupun menolak persyaratan itu sama-sama akan membahayakan jalinan persatuan Nusantara yang sudah dengan susah payah dibangunnya sebelum ini. Sebuah persatuan yang (pada masa itu) dapat dipertahankan diatas wibawa Sang Penguasa Kerajaan Majapahit. Para raja lain dibawah kekuasaan Majapahit akan membaca peristiwa tersebut sebagai isyarat melemahnya kerajaan besar tersebut oleh kepemimpinan Sang Raja yang masih muda itu. Ini berarti akan berkobarnya kembali perang karena pemberontakan dari kerajaan-kerajaan dibawah Majapahit. Sang Mapatih berupaya membicarakan masalah tersebut dengan Raja Sunda hingga kemudian dapat diterima dan disetujui, namun ketika kembali ke kotaraja, didengarnya kembali berita bahwa pihak Kerajaan Sunda tetap berkeras pada pendiriannya semula, bahkan Patih Anepaken dari Kerajaan Sunda sudah mempersiapkan pasukan perangnya jika persyaratannya ditolak, hingga jalan perang pun tak dapat terhindarkan lagi sampai berakhir ketika Raja Sunda terbunuh, diikuti oleh putrinya yang bunuh diri. Raja Hayam Wuruk yang terlanjur menyukai Sang Putri menjadi sangat terpukul dan kecewa.

Tak lama kemudian Sang Mapatih yang berperawakan sedang dan tegap ini (karakter wajah dari temuan patung yang selama ini banyak diperkirakan sebagai bentuk wajah Gajah Mada, sebenarnya hanya wajah imajiner pembuatnya, bukan dan tidak menyerupai wajah Gajah Mada yang sesungguhnya) lalu mengajukan pengunduran diri, menyendiri (laku tapa) bersama istrinya, Ni Bebed hingga meninggal pada 1364. Dan kejayaan Majapahit pun mulai meredup.

Tidak ada komentar: