Sabtu, 15 Oktober 2011

Sejarah Dakwah Nabi Muhammad Sebelum Hijrah

Pengertian sejarah dakwah 
Sejarah dakwah dimulai sejak zaman dulu yaitu sebelum zaman Nabi Muhammad SAW atau zaman nabi-nabi sebelumnya hingga zaman Nabi Muhammad SAW dan seterusnya sampai sekarang.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai sejarah dakwah perlu diketahui terlebih dahulu arti dari sejarah dakwah.Sejarah menurut kamus teologi adalah penulisan dan studi mengenai peristiwa penting dalam hidup manusia dalam tingkat local, nasional, internasional maupun global.


Sedangkan dakwah menurut pengertian bahasa (lugat) berarti teriakan (As-Shaihatu) dan seruan (An-Nida), menurutistilahilmu dakwah mengarahkan pikiran dan akal manusia kepada sesuatu pemikiran/akidah dan mendorong mereka untuk menganutnya atau menyampaikan pesan Islam kepada manusia di setiap waktu dan tempat dengan berbagai metode dan media yang sesuai dengan situasi dan kondisi para penerima pesan dakwah. Berdakwah artinyamempropogandakan suatu keyakinan, menyerukan suatu pandangan hidup, iman dan agama. Pernah kah terfikir pada diri kita, Mengapa Islam belum menjadi agama yang menyeluruh dilakukan oleh umat manusia ? Padahal Islam membawa ketenangan dan kedamaian dalam diri . 

Diantara kesekian banyak alas an tentunya salah satu alas an paling menonjol adalah ketidakberhasilan seorang DAI menyampaikan amanat Allah secara benar. Dan jikaditelaah lebih lanjut salah satu penyebab kegagalan seorang DAI adalah kurangnya pengetahuan di berbagai macam disiplin ilmu dan kurangnya pengetahuan mengenai isi yang disampaikan. Sejarah mengenai peran penting dalam keberhasilan seseorang DAIuntuk menyampaikan amanat Alllah.Oleh karena itu, seorang DAI Harus mengerti sejarah, karena sejarah berperan dalam memperluas alam fikiran dan guna dapat membuat perbandingan antara agama dan kejadian-kejadian dahulu dengan sekarang. Sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW Sebelum Hijrah Setelah turun ayat Allah al-Mudatsir: 1-7 dimulailah tugas nabi Muhammad SAW untuk berdakwah, Nabi Muhammad memulai dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi, dimulai dari orang yang terdekat dari keluarga, lalu sahabat dan kemudian orang-orang baik yang dikenalnya.

 Pada fase awal perjalanan dakwah Rasul di Mekah, perhatian utamanya adalahmemperbaiki akidah.membersihkannyadan mendidik jiwa dengan melepaskannya dari sifat-sifat tidak terpuji, Sehingga hati orang-orang saat itu dapat menyatu untuk sama-sama mengesankan Allah dan menghilangkan sisa-sisa kejahilan dari jiwa mereka. Strategi dakwah rasulullah saw periode mekah Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliahannya di bidang agama, moral dan hokum sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat Arab telah telah mengamalkan seluruh ajaran islam dengan niat ikhlas karena Allah SWT dan sesuai dengan petunjuk-petunjuk Rasulullah SAW, tentu mereka akan memperoleh keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan di dunia akhirat. 

 Strategi dakwah Rasulullah SAW dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut : 

1. Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi Selama 3-4 Tahun Setelah Rasulullah SAW diutus menjadi Rasul dan agar melaksanakan dakwahnya kepada orang Quraisy, maka Rasulullah merasa bingung bagaimana memulai pendakwahannya tentang ajaran baru yaitu Islam.Pada akhirnya Rasulullah melaksanakan dakwah tersebut dengan tahapan pertama, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi.Dakwah tersebut dilakukan Rasulullah di seputar keluarganya, selain itu juga dilakukan di kalangan orang-orang tertindas, lemah, dan membutuhkan pertolongan. Pada tahapan ini, Rasulullah mengajak mereka memeluk Islam, membina mereka dengan pemikiran-pemikirannya, membimbing mereka dengan hukum-hukumnya dan membentuk kutlah atau kelompok.Demikian itu menunjukkan bahwa Rasulullah tidak pernah lepas dari dakwah dan bersungguh-sungguh membina orang-orang yang masuk Islam dengan pemikiran-pemikiran. Beliau mengumpulkan mereka di rumah Al-Arqam, dan mengirim sahabat yang akan membina mereka dalam bentuk kutlah di berbagai halaqah. Selain kutlah, Rasulullah membina secara berkelompok.Pembinaan secara kelompok yang dilakukan oleh Rasulullah hanya untuk orang-orang yang bersimpati kepada Islam dan siap untuk menerima Islam. Materi dakwah yang dilakukan Rasulullah secara sembunyi-sembunyi merupakan ayat-ayat yang turun kepada Rasul untuk mengajak pada ketauhidan, mengingkari keberhalaan, dan kesyirikan serta mengutuk keduanya, dan mencela bapak-bapak dan nenek moyang tanpa pemikiran. Muatan ayat-ayat yang turun mencela muamalah-muamalah yang rusak, menyerang riba dan menhantam perdagangan yang rusak dna penipuan dalam takaran dan timbangan. Selama tiga tahun berdakwah, hanya empat orang/ pengikut yang masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah. Diantaranya adalah Istri nabi Muhammad Khadijah, dari keluarganya adalah Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan budak adalah Zaid bin Harisah, dan dari kalangan kerabat dekatnya Abu Bakar atau yang disebut juga dengan nama Attiq bin Usman. Dengan perantara Abu Bakar, banyak orang yang masuk Islam, diantaranya; Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah bin Jarrah, Abdurrahman bin Auf, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah binti Khottob, dan suaminya dna lain-lain. Pada tahap pertama ini, tantangan yang dialami oleh Rasulullah masih sedikit, karena masih dalam tahap sembunyi-sembunyi, jadi belum terlalu keras dan terjal dalam pendakwahannya.

 2. Dakwah Secara Terang-Terangan Setelah tiga tahun berlalu, dan melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi, maka Rasulullah ingin menyebarkan/ menyampaikan secara terang-terangan.Sebelum Rasulullah berdakwah secara terang-terangan, Rasulullah menjamu makan malam sederhana kepada kaum Bani Hasyim (keluarga besar Rasulullah).Dalam acara tersebut Rasulullah mengajak kabilah Bani Hasyim untuk mengikuti langkah atau ajaran Islam.Hasil yang didapatkan adalah mereka tidak menggubris ajakan Rasulullah, bahkan meninggalkan tempat jamuan sebelum acara tersebut berakhir. Di lain waktu, acara jamuan tersebut diadakan kembali. Kali ini para tamu undangan mulai mendengarkan perkataan Rasulullah.Namun, tak satupun dari mereka yang meresponnya secara positif.Hal tersebut tidak membuat Rasulullah dan para sahabatnya patah arah, tetapi membuat Rasulullah dan para sahabatnya semangat dan dakwahnya semakin diperlebar.Hingga suatu ketika Rasulullah mengadakan pidato terbuka di bukit Sofa.Pidato tersebut berisi perihal kerasulannya.Rasulullah memanggil seluruh penduduk Makkah dan mengabarkan kepada mereka bahwa dirinya diutus untuk mengajak mereka meninggalkan “Paganisme” (Penyembahan terhadap berhala).Beliau menjelaskan bahwa Tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah.Mendengar hal tersebut masyarakat Quraisy tersentak kaget, mereka sangat marah karena hal tersebut dan menghina tradisi nenek moyang dan kehormatan mereka.Para pembesar Quraisy membentak dan memaki Rasulullah dengan keras.Mereka menganggap bahwa Muhammad adalah orang gila. Bahkan pamannya sendiri Abu Lahal pun mengancam Rasulullah dengan keras. Seiring berjalannya waktu, dakwah secara terang-terangan terus dilakukan. Bersamaan dengan itu pula, perlawanan dari kalangan pembesar Quraisy seperti Abu Sofyan, Abu Lahab, Ummayah, dan Utbah bin Rabi’ah semakin gencar. Para penentang tersebut mulai melancarkan aksi permusuhan kepada Rasulullah dan para sahabat.Para pengikut yang berasal dari kalangan lemah dan tertindas sering mendapatkan siksaan yang berat. Mereka tidak lagi memandang bahwa Muhammad adalah anggota kabilah Bani Hasyim, hanya saja tekanan-tekanan terhadap Rasulullah tidak mereka lakukan secara langsung, karena mereka masih menghargai Abu Thalib dan para anggota Bani Hasyim lainnya. Setelah mendapatkan siksaan yang bertubi-tubi dari kaum Bani Hasyim, maka kaum muslimin hijrah ke Abesinia (Ethiopia). Hijrah kaum muslim tersebut terbagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama berjumlah 11 orang pria dan 4 wanita.Mereka kembali ke Makkah justru Quraisy menyiksa kaum muslimin lagi.Ternyata sesampainya di Makkah justru Quraisy menyiksa kaum muslimin lebih kejam dari yang sebelumnya.Oleh karena itu, maka kaum muslimin berhijrah kembali untuk yang kedua kalinya ke abesinia dengan rombongan yang lebih besar, yakni orang pria tanpa wanita. Mayoritas penduduk Abesinia beragam nasrani (kristen) dan dipimpin oleh Raja Najasi Negus. Para masyarakat Abesinia menghormati kaum muslim untuk tinggal di sana sampai setelah Nabi hijrah ke Madinah. 

PERISTIWA-PERISTIWA YANG MELATARBELAKANGI NABI MUHAMMAD SAW MELAKUKAN HIJRAH 

 Perlawanan kaum Quraisy yang semakin meningkat dan penyiksaan yang semakin kejam terhadap pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW mendorong beliau untuk memerintahkan kaum muslimin berangkat ke negeri Habsyi.Pilihan Nabi Muhammad SAW jatuh kepada negeri Habsyi didasarkan atas pengetahuannya sendiri bahwa al-Najasyi (Negus) yang berkuasa di negeri tersebut adalah orang yang adil lagi bijaksana dan orang Quraisy tidak punya pengaruh yang besar di negeri tersebut. Hijrah yang pertama dalam sejarah Islam ditandai dengan berangkatnya 10 orang laki-laki dan 4 orang perempuan ke negeri Habsyi.Peristiwa ini terjadi pada tahun 615 M dan mengandung pengertian perpindahan dari dar al harbi ke dar al amni.Pemberangkatan pertama yang berhasil itu menyebabkan pengikut-pengikut Nabi Muhammad yang lain menyusul sehingga jumlahnya mencapai 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. 

Mungkin karena peningkatan jumlah yang berhijrah ini, sehingga sebagian sejarawan muslim berpendapat bahwa hijrah ke Habsyi dilakukan sebanyak dua kali. Nafsu kaum Quraisy Mekah untuk mematahkan semangat perjuangan nabi Muhammad SAW sangat besar, sehingga mereka mengutus Amr b. Ash dan Amr b. al-Walid untuk memohon kepada al-Najasyi agar pelarian dari Mekah itu dikembalikan dengan alasan bahwa mereka adalah pengacau agama dan perusak kekeluargaan serta kehormatan Quraisy. Oleh karena semua tuduhan yang dikemukakan oleh orang-orang Quraisy tidak terbukti maka permohonan mereka ditolak dan orang-orang Islam tetap diizinkan untuk tinggal di Habsyi dengan jaminan keamanan.Akhirnya mereka kembali dari Habsyi dengan rasa kecewa.Penolakan tersebut menyebabkan kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul al-Muthalib selama tiga tahun di lembah Bani Tsaqif. 

Bertahun-tahun Nabi Muhammad SAW menyerukan Islam di Mekah, tetapi hasil yang dicapai sangat minim dan tidak seimbang dengan tenaga serta pengorbanan yang telah diberikan.Pikiran-pikiran Nabi yang dinamis terasa buntu berhadapan dengan masyarakat yang tradisionil, kaku, dan statis. Partner tercinta Nabi Muhammad SAW yakni isterinya Khadijah dan pelindungnya yang disegani kaum Quraisy yaitu pamannya Abu Thalib telah berpulang ke rahmatullah dalam waktu yang hamper bersamaan. Kehilangan kedua orang tersebut merupakan problem baru Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan da’wah islamiyah di Mekah.Nabi Muhammad mencoba berkunjung ke Thaif.Penguasa di negeri itu adalah keturunan Tsaqif yang masih kerabat dekatnya.Keturunan Tsaqif yang berkuasa bergelar Kinanah, bergelar Abu Jalil, Mas’ud yang bergelar Abul Kulal dan Habib.Ketiganya adalah anak dari Amr b. Umair b. Auf al-Tsaqafi.Nabi Muhammad SAW memasuki Thaif disertai oleh Zaid b. Harist. 

Nabi Muhammad memasuki perkampungan orang-orang Thaif dan memperkenalkan islam kepada mereka. Nabi Muhammad mengajak orang-orang Thaif seperti beliau mengajak orang-orang di Mekah.Ajakan Nabi Muhammad membuat orang-orang Thaif marah dan mengusir mereka serta melemparinya dengan batu.Harapan Nabi Muhammad terhadap Thaif tidak terpenuhi.Namun perlakuan mereka yang kejam terhadap dirinya dimaafkannya.Nabi Muhammad mendoakan mereka supaya mereka diampuni oleh Allah dan dapat memberikan hidayah kepada kaumnya itu.Nabi Muhammad yakin penduduk Thaif belum memahami hakekat ajaran-ajaran yang dibawanya.Nabi Muhammad kembali ke mekah dalam keadaan sedih.Di Mekah Nabi Muhammad selalu berfikir daerah mana yang cocok untuk menyiarkan Islam selain Mekah. 

Suatu peristiwa amat penting juga telah terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW semasih berada di Mekah.Peristiwa tersebut dikenal dalam ejarah islam dengan Isra’ Mi’raj.Peristiwa itu terjadi setahun sebelum hijrah tepatnya 27 Rajab 621 M. Pada peristiwa ini Allah SWT memperlihatkan tanda-tanda keagungan dan kekuasaan-Nya sebagai hiburan untuk Nabi Muhammad yang sedang dirundung keseduhan.Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sanagt berharga kepada Nabi Muhammad.Selain itu, dia juga menerima perintah untuk melaksanakan holat 5 waktu dalam sehari semalam. Rupanya, peristiwa ini menjadi koreksi bagi umat islam yang beriman. Siapa yang beriman dengan mantap dan siapa saja yang rapuh imannya.Terbukti setelah Nabi Muhammad menyampaikan peristiwa Isra’ Mi’raj ada diantara para pengikutnya yang murtad.

Sementara ada pula yang semakin mantap dank arena kecintaannya kepada Nabi Muhammad mereka berani melakukan Hijrah ke daerah yang dianggap lebih aman. Persiapan untuk mengembangkan Islam di Yastrib memasuki tahap permulaan.Dalam keadaan sedih karena perlakuan orang-orang Quraisy serta kehilangan orang-orang yang dicintainya Nabi Muhammad sempat mendapatkan usaha udara baru dari Yatrib.Pada tahun 620 M Nabi Muhammad sempat bertemu 6 orang Yastrib dari kabilah Khazraj yang berziarah ke Mekah.Dalam pertemuannya tersebut Nabi menyeru kepada mereka untuk ke agama Allah dan mereka menyambut dengan baik serta menyatakan masuk Islam pada saat itu juga. Orang-orang Yatrib yang telah menyatakan keislamannya di Mekah memberitahukan apa yang disaksikannya kepada masyarakat Yastrib. 

Kedatangan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah untuk mengajak manusia menyembah Allah dan menghentikan perselisihan diantara sesame manusia.Hal ini bertepatan sekali dengan permasalahan yang dihadapai masyrakat Yastrib yaitu perselisihan antara Bani Aus dan Bani Khazraj.Karena itu, mereka menyambut Islam dengan suka cita dengan harapan suku yang sudah 15 tahun berseteru tersebut dapat berdamai. Pada tahun 621 M orang-orang muslim Yastrib mendatangi Nabi Muhammad beserta 6 orang temannya yang lain sebagai utusan dari kabilah Khazraj dan Aus. Keenam orang tersebut menyatakan keislamannya di tempat yang bernama Aqabah. Peristiwa pengislaman orang-orang Yastrib ini juga diikuti perjanjian kesetiaan mereka kepada agama Allah.Perjanjian itu dikenal dengan perjanjian Aqabah pertama. 

Diantara orang yang menyatakan keislamannya terdapat seorang wanita yang bernama Afrah binti Abid bin Tsa’labah. Ubadah bin Samit, salah seorang peserta perjanjian menceritakan materi perjanjian sebagai berikut “kami tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, kami tiada akan mencuri, kami tiada kan berzina, kami tiada akan membunuh anak-anak kami, tiada akan fitnah memfitnah, dan tiada akan mendurhakai Nabi Muhammad pada sesuatu yang tidak kami kehendaki”. Perkembangan selanjutnya lebih menambah keyakinan Nabi Muhammad SAW akan bahwa orang Yastrib bersungguh-sungguh terhadap Islam. Mereka datang kembali pada 622 M dengan maksud mengadakan perjanjian Aqabah 2 sekaligus mengundang beliau untuk berhijrah ke Yastrib.Dibanding perjanjian yang pertama, perjanjian ini mempunyai ciri tersendiri.Perjanjian Aqabah 2 diikuti 75 orang dari Yastrib dan Nabi didampingi pamannya yang bernama Hamzah.Isi perjanjian kesetiaan yang diucapkan tidak jauh berbeda dengan isi perjanjian kesetiaan yang sebelumnya. 

Namun yang menarik dari perjanjian ini adalah peserta yang memeluk agama islam emakin banyak. Dalam dua kali perjanjian yang terjadi, Nabi mendapatkan kesan bahwa Islam telah siap berkembang pesat di Yastrib.Fakta ini membuat Nabi Muhammad SAW memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Yastrib dengan sembunyi-sembunyi.Sementara pengikut-pengikutnya meninggalkan Mekah, Nabi Muhammad bertahan di Mekah bersama Abu Bakar dan Ali b. Abi Thalib. Perpindahan kaum muslimin secara sembunyi-sembunyi akhirnya diketahui oleh kaum Quraisy karena kosongnya beberapa bagian kota Mekah dari kehidupan. 

Nabi Muhammad hanya mengabdikan dirinya untuk agama Allah.Setelah Nabi Muhammad melihat pengikutnya sudah tidak ada di tanah Mekah, maka Nabi Muhammad SAW meninggalkan Mekah di tengah-tengah kesibukan dan seriusnya orang Quraisy untuk membunuh dirinya.Kaum Quraisy melakukan dan merencanakan hal itu karena takut Nabi Muhammad dapat bergabung dengan pengikutnya di Yastrib.Nabi Muhammad meninggalkan Mekah pada waktu malam dan melalui ujian-ujian berat.Setelah melalui beberapa ujian akhirnya atas izin Allah Nabi Muhammad SAW sampai di Yastrib. Pada dasarnya, Nabi Muhammad hijrah dari Mekah menuju Yastrib merupakan perintah dari Allah SWT tetapi juga terjadi sebab alamiah lainnya.

Adapun sebab alamiahnya adalah semakin kejamnya perlakuan kafir Quraisy terhadap kaum muslimin yang ada di Mekah, kaum muslimin yang ada di Mekah selalu dimusuhi, undangan kaum Khazraj dan Aus supaya Nabi Muhammad hijrah ke Mekah, dan Islam tidak berkembang di Mekah.Dari beberapa alasan tersebut, alasan yang menjadi pertimbangan Nabi Muhammad adalah Undangan dari kabilah Khazraj dan kabilah Aus yang sudah lama berseteru untuk mendamaikan mereka. 

 DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW SETELAH HIJRAH 

 Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah masyarakat di negeri ini belum mempunyai kesatuan akidah. Mereka adalah penduduk heterogen dan hidup dalam perpecahan. Secara garis besar masyarakat Madinah pada saat itu terbagi atas 3 kelompok : 

1. Umat Islam, terdiri dari kelompok Aus, Khosroj, dan Muhajirin. 
2. Kaum Musyrikin, terdiri dari kelompok Aus, Khosroj dan kelompok lain tapi belum masuk Islam 3. Yahudi, terdiri dari beberapa kabilah seperti Bani Qoinuqa yang berafiliasi dengan Khosroj, Bani Nadir dan Quroidzah yang bergabung dengan Aus. Aus dan Khosroj adalah dua kelompok yang sejak zaman Jahiliyah hidup bermusuhan sehingga diantara keduanya sering terjadi peperangan.Ketika Rasulullah dating ke Madinah mereka tetap bermusuhan. Nabi Muhammad SAW dapat mengatasi perpecahan tersebut melalui sikap bijaknya yang agung dan siasatnya yang tepat. 

Beliau melakukan langkah-langkah perbaikan seperti berikut : 
a) Membangun masjid 
b) Mengajak kaum Yahudi kepada Islam 
c) Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar 
d) Memberikan pendidikan 
e) Menyusun aturan bermasyarakat antara umat Islam dan kaum Yahudi

Tidak ada komentar: